Selamat Datang di Web Resmi SDSK Marie Joseph Pontianak

Pemberkatan Gedung Sekolah Dan Perpisahan Siswa PAUD Marie Joseph TK B

Pembangunan gedung Sekolah Marie Joseph telah dimulai sejak tahun lalu. Dimulai dengan pemberkatan batu pertama yang dipimpin oleh RD. Gregorius Rahmadi pada tanggal 16 September 2015 silam. Kemudian hari-hari pun berlalu sehingga pada tanggal 15 Juni 2016 gedung sekolah Marie Joseph Pontianak telah rampung. Bulan April lalu, kontraktor dan para tukang telah melakukan finishing bagian dalam gedung baik cat tembok, pemasangan instalasi listrik, saluran air bersih, pemasangan kaca dan AC yang ditempatkan di setiap kelas. Saat ini, tukang-tukang akan menyemen halaman agar beberapa sarana bermain untuk anak-anak TK dapat digunakan. 

Pada tanggal 15 Juni 2016, Suster KFS mengundang Pastor Desi Darius, OFMCap untuk memimpin misa pemberkatan sekaligus perpisahan siswa PAUD Marie Joseph TK B yang akan melanjutkan ke jenjang pendidikan dasar. Para guru, staf karyawan sejak hari lalu telah mempersiapkan acara tersebut dengan baik. Mulai dari persiapan panggung, sound system, acara-acara hingga ramah tamah dari anak-anak sendiri yang telah dilatih jauh hari sebelumnya untuk menghibur para hadirin yang berdatangan. Hal ini tidak lepas dari dukungan para orang tua yang juga ikut membantu mendukung pihak sekolah dalam menyukseskan karya pendidikan bagi anak-anak mereka. 

Sebelum masuk misa syukur, anak-anak dari Sekolah Dasar (SD) Swasta Katolik Marie Joseph membawakan tarian pembukaan. Misa tersebut dipimpin oleh Pastor Desi Darius OFMCap. Anak-anak melakukan tarian khas dayak dengan diiring musik khas sape’ untuk mengantarkan sang imam ke depan altar yang telah disediakan. Para  orang tua murid begitu antusias sehingga dari berbagai sudut, kamera mereka terarah kepada lincahnya gerak tari sang penari cilik. Misa tersebut diiringi oleh paduan suara yang berasal dari anak-anak TK Marie Joseph yang telah dilatih oleh para suster, staf guru baik guru kelas maupun guru seni mereka.

Dalam misa syukur tersebut, beberapa hal baik diberikan oleh Pastor Desi Darius OFMCap kepada anak-anak dan tamu undangan. Dalam kata pembukaannya, Pastor Desi mengatakan bahwa orang tua yang menitipkan anak mereka ke sekolah Marie Joseph ini, adalah bukti kepedulian para orang tua terhadap anak-anaknya. Lebih-lebih lagi, semua pihak harus terlibat, baik suster, guru, orang tua dan para murid yang menjadi bagian dari pembinaan. Hal tersebut merupakan kewajiban semua orang bagi anak-anak mereka. Ada dua dasar yang menjadi kunci jika dikaitkan dengan bacaan pada hari ini mengenai dua macam dasar. Pertama, sebuah bangunan yang harus kuat pendiriannya. Kedua, dasar untuk bangunan itu juga yang sama-sama harus kuat menahan beban bangunan. Ibaratkan seperti gedung sekolah yang dibangun tersebut, harus memiliki dasar yang kuat agar dapat membangun gedung sekolah Marie Joseph yang bertingkat tiga tersebut. Para kontraktor tentu telah memperhitungkan hal ini dengan baik, bagaimana kekuatan dasar dari bangunan, dan seberapa kokoh bangungan di atasnya sehingga mampu berdiri hingga bertahun-tahun. Selanjutnya, anak-anak juga di sekolah diberikan dasar yang kuat agar mampu memperoleh kekuatan di masa depan nanti.
Setelah membacakan injil, Pastor Desi memperagakan sebuah keterampilan melihat kertas. Ia memperagakan di depan anak-anak dan bertanya jawab. “Pastor akan membuat kertas ini menjadi pesawat,” katanya. Sembari menunggu pesawat kertas tersebut selesai, anak-anak dengan tidak sabar menanti hasilnya. Ketika pesawat kertas tersebut diangkat, anak-anak menjadi takjub dan seakan diajak oleh Pastor untuk bermain. Kemudian, Pastor Desi bertanya lagi,”Warna apakah kertas ini?” Anak-anak serentak menjawab dengan keras,”Putih”. Pastor Desi menganalogikan anak-anak sebagai sebuah kertas yang putih. Pastor Desi menyebut anak-anak sebagai tabula rasa atau selembar kertas putih yang siap dibentuk menjadi apapun. “Inilah keadaan anak-anak kita,” ungkapnya. Jika kertas tersebut dibiarkan maka kertas tersebut tidak menjadi apapun. Tetapi jika dibentuk, maka akan menjadi sesuatu. Harapan setiap orang, khususnya yang dicita-citakan oleh Sekolah Marie Joseph adalah menjadikan anak yang baik, berkarakter serta berprestasi.

Kotbah selanjutnya diarahkan kepada para orang tua. Pastor Desi mengatakan bahwa ia pernah membaca sebuah buku yang menuliskan alasan perusahaan Telkomsel dapat dikenal seluruh Asia. Ia mengutip pada lima unsur yang dapat digunakan dalam sekolah-sekolah. Pertama, enable ; di mana perusahaan akan membangun suatu sistem, kebijakan, program untuk menjalankan kegiatan persekolahan. Kedua, entusiasm ; pengorbanan, guru-guru merupakan bagian dari antusias, selanjutnya orang tua harus mendukung barulah kemudian siswa harus bersemangat dalam berlajar. Ketiga,  edu-knowledge ; aspek khusus yang menjadi suatu ciri khas atau prestasi yang diunggulkan dibandingkan dengan sekolah-sekolah lainnya. Keempat, exposure; sikap berani memberi diri keluar, meningkatkan kualitas mutu pendidikan dan tenaga pengajar dan membuka diri bagi dunia luar. Dan terakhir adalah equity ; di mana suatu mutu kelayakkan diperhitungkan, kualitas dan kepantasan, pemasukan dan pengeluaran yang seimbang, gaji karyawan yang seimbang, anggaran belanja operasional, dan sarana dan prasarana gedung yang memadai. Dikaitkan dengan injil, Pastor Desi mengatakan lima hal ini dapat menjadi dsar yang kuat bagi sistem pendidikan, tenaga dan peran serta orang tua bagi pendidikan anak.

Berkaca pada ketidakadilan terhadap guru, Pastor Desi mengungkapkan keprihatinan terhadap nasib guru. Baru-baru ini di daerah Kubu Raya ada sebuah kasus yang menimpa seorang guru. Usut punya cerita, ternyata sang murid sudah berkali-kali diingatkan untuk memotong rambut yang sudah mulai panjang. Karena sudah diingatkan, namun tidak digubris, maka sang guru mengambil keputusan untuk menggunting sendiri rambut sang murid. Akan tetapi, reaksi orang tua tidak seperti yang diharapkan. Orang tua malah datang ke sekolah dan menggunting rambut sang guru sebagai aksi balas karena tidak terima sang anak diperlakukan demikian. Pastor Desi menanggapi hal ini dengan serius. “Jika tidak mau menerima anak dididik di sekolah, silakan bapak ibu mendirikan sekolah sendiri, mendidikan anak sendiri dan menjadi guru untuk anak-anak anda sendiri,”tegasnya. Karena bagaimanapun, ketika anak kita telah dititipkan ke lembaga sekolah, orang tua harus menyerahkan sepenuhnya tanggung jawab mendidik dan mengajar kepada para guru. Senada dengan hal ini, baru-baru ini juga penulis membaca berita bahwa orang tua cenderung melindungi kesalahan anaknya, sehingga sang guru yang bertugas sebagai pendidik siswa harus dijebloskan ke dalam penjara. 
Ramah tamah kemudian dilaksanakan seusai misa pemberkatan gedung. Anak-anak dari TK dan SD Marie Joseph mulai menunjukkan keberanian mereka di atas panggung. Aksi mereka yang sangat menghibur para orang tua dan hadirin disambut antuasias oleh seluruh pihak yang hadir. Hingga kegiatan penghujung, masih terdapat orang tua yang setia menunggu aksi anak-anak mereka yang terakhir kalinya bersekolah di PAUD Marie Joseph Pontianak. Penulis pindah menuju keyboard dan mengiring lagu “Pahlawan tanpa tanda Jasa”. Ketika anak-anak TK B menyanyikan lagu tersebut, para guru yang ikut serta meneteskan air mata kebahagiaan di mana anak didik mereka berhasil melewati masa-masa TK beralih ke pendidikan dasar. Air mata boleh menetes layaknya hujan yang turun, namun itu bukanlah akhir segalanya. Anak-anak yang telah mereka didik akan menjadi insan-insan yang mandiri, berkarakter dan berprestasi di manapun mereka berada. Harapan besar para guru bagi mereka adalah tetap menjadi anak yang baik serta berguna bagi semua orang. Para orang tua kemudian naik ke atas panggung dan mengucapkan terima kasih kepada guru yang telah mendidik anak mereka menjadi anak-anak yang luar biasa. Suasana haru begitu terasa sembari air mata para orang tua yang ikut jatuh. Penulis berpikir, itu adalah air mata ‘kebanggaan’, bangga pada sosok para guru sebagai pahlawan tanpa tanda jasa. 

Pendidikan bukanlah sesuatu hal yang gampang diucapkan begitu saja. Hal ini dikarenakan pendidikan adalah sebuah kebutuhan yang diberikan oleh sekolah kepada siswa agar siswa menjadi pribadi yang berkarakter dan berprestasi. Hal ini memerlukan dukungan besar dari para orang tua yang menitipkan anak-anak mereka untuk siap menghadapi perkembangan global di masa depan. Banyak sekali di belahan bumi ini, para guru masih diperlakukan kurang adil, namun kita berdoa semoga para guru sebagai penggerak pendidikan di Indonesia agar tetap sabar menjalani profesi sebagai pahlawan tanpa tanda jasa. Namun semangat Marie Joseph boleh tetap berkibar di tengah kancah persaingan mutu pendidikan di manapun sekolah ini berada. Semangat melayani, memberi dan kasih yang terpancar dari Sang Guru sejati yaitu Yesus Kristus sendiri. Semoga dengan adanya gedung baru ini, mutu pendidikan di sekolah Marie Joseph dapat ditingkatkan demi tujuan negara yang mulia yakni mencerdaskan kehidupan anak bangsa kita. Pace e bene! (Sdr. Fransesco Agnes Ranubaya, OFS)

Share this post :

Posting Komentar

Pendaftaran siswa baru dapat menghubungi Telp. (0561)745-134; Sdr. Fransesco A.R.,OFS: 0852-4987-7227; Sr. Maria Mediatrix,KFS: 0812-5065-0022; Sdr. Emanuel Hongky Hadianto, OFS: 0853-4502-3001

IG: @sdmariejosephpnk

Arsip Blog

Dindikptk


Statistik Blog

KIRIMAN SEBELUMNYA

 
Support : Fransesco Agnes Ranubaya,S.Kom. | Facebook | SD Marie Joseph Pnk
Copyright © 2015. SD Marie Joseph Pontianak - All Rights Reserved
Template by Cara Gampang Modified by Fransesco Agnes Ranubaya,S.Kom.
Proudly powered by Blogger